Perang Barito adalah perang yang berlangsung di daerah Barito yang merupakan rangkaian Perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah.
Hasil pertemuan bulan September 1859 antara Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, Kiai Demang Lehman dan tokoh perjuangan lainnya di daerah Kandangan menetapkan bahwa Pangeran Antasari memperkuat pertahanan di daerah Dusun Atas, sedangkan Tumenggung Jalil memperkuat pertahanan di Banua Lima, bersama Pangeran Hidayatullah. Di daerah Martapura dibawah pimpinan Demang Lehman
dan tokoh-tokoh pimpinan masyarakat lainnya. Dalam perkembangannya
medan pertempuran Perang Banjar berlangsung dari wilayah sungai Kapuas
(Kalteng) di sebelah barat sampai Tanah Bumbu (Kalsel) di sebelah timur,
dari Tanah Laut (Kalsel) di sebelah selatan sampai Tanah Dusun
(Kalteng) di sebelah utara.
26 Desember 1859
Pangeran Antasari bermukim di daerah suku Dayak Siang di Dusun Atas mendampingi Pimpinan suku Dayak Siang Tumenggung Surapati. Komandan kapal Onrust,
Van del Velde mengantarkan Surapati melihat-lihat meriam, begitu pula
anak buah Surapati diajak melihat-lihat kapal perang itu. Menurut
kesaksian Haji Muhammad Talib yang selamat dengan melarikan diri
bersembunyi menceritakan bahwa kejadian terjadi pada siang hari 26 Desember 1859.
Serdadu Belanda tidak merasa curiga dan mereka tidak mempunyai senjata,
kecuali Van del Velde yang memiliki pedang tetap di pinggangnya. Letnan
Bangert juga tidak bersenjata. Anak buah Surapati sudah tidak sabar
lagi dan ketika Gusti Lias dengan perahu berada di sisi kapal, Ibon
putera Tumenggung Surapati menghunus mandaunya
sambil berteriak teriakan perang dan ini berarti perang amuk dimulai.
Mandau Ibon mengenai Letnan Bangert dan jatuh tersungkur. Surapati
menghunus mandaunya terhadap Van der Velde dan pertarungan pun terjadi
dan berakhir dengan menjadi mayat Van der Velde. Selanjutnya kesaksian
Haji Muhammad Thalib mengatakan bahwa teriakan perang itu menyebabkan
anak buah Surapati berdatangan dengan perahunya mendekati kapal Onrust.
Dalam waktu sekejab sekitar 400-500 orang anak buah Tumenggung Surapati
telah berada di atas kapal dan pergumulan perkelahian terjadi. Dalam
hal ini meriam dan senapan tidak berbunyi karena perkelahian terjadi
dalam jarak dekat. Para pemimpin perang lainnya seperti Tumenggung Aripati, Tumenggung Mas Anom, Tumenggung Kertapati
ikut mengamuk di atas kapal Onrust tersebut. Perkelahian itu
berlangsung hampir satu jam. Semua opsir dan serdadu Belanda yang
berjumlah 90 orang berhasil ditewaskan dan kapal perang Onrust
berhasil ditenggelamkan. Yang kemudian diketahui selamat adalah
penghubung perundingan Haji Muhammad Thalib yang kemudian menceritakan
apa yang terjadi atas kapal Onrust dan baru 31 Desember 1859 sampai Banjarmasin. Semua isi kapal perang itu sebelum ditenggelamkan diangkut, senapan, lila, meriam dan mesiu
yang kemudian digunakan Tumenggung Surapati dan Pangeran Antasari untuk
menembaki kapal-kapal Belanda yang lewat. Menurut catatan perang
Belanda, bahwa kerugian yang paling besar diderita Belanda adalah dalam
Perang Banjar, karena kapal perang berisi senjata beserta serdadunya
terkubur bersama-sama ke dasar sungai Barito.
Tenggelamnya kapal perang “Onrust” sangat mengejutkan dan menggemparkan
pihak Belanda, sebaliknya menimbulkan semangat juang yang tinggi.
Tumenggung Surapati
Tumenggung Surapati adalah seorang putera suku Dayak Siang dilahirkan
dilembah Sungai Kahayan, sekarang termasuk wilayah Kalimantan Tengah.
Sebagai seorang kepala suku, dia terkenal dengan gelar Kiai Tumenggung
Pati Jaya Raja. Tumenggung Surapati berjuang bersama-sama Pangeran
Antasari dan dibantu oleh tokoh-tokoh pejuang lainnya seperti Tumenggung Singapati, Tumenggung Kartapati, Tumenggung Mangkusari
dalam perang Barito untuk menghancurkan kekuasaan kolonialisme Belanda
di daerah itu. Merekalah tokoh-tokoh pejuang yang menggerakkan rakyat
Barito melawan Belanda dalam Perang Barito (1865-1905).
Tumenggung Surapati dengan anak buahnya suku Dayak Siang telah
memeluk agama Islam. Kedua tokoh pimpinan perjuangan ini diikat dalam
hubungan kekeluargaan dengan mengawinkan putera Tumenggung Surapati yang
bernama Tumenggung Jidan dengan cucu Pangeran Antasari. Tumenggung
Surapati dengan anak buahnya bersama Pangeran Antasari telah mengangkat
sumpah bersama-sama berjuang menghalau penjajah Belanda. Mereka akan
berjuang tanpa pamrih dan tanpa kompromi dengan tekad : Haram Manyarah
Waja Sampai Kaputing. Belanda berusaha dengan segala taktik liciknya
untuk memikat hati Tumenggung Surapati agar Tumenggung ini tidak
melakukan perlawanan terhadap Belanda dan bersedia membantu Belanda
untuk menangkap Pangeran Antasari. Tumenggung Surapati sebagaimana suku
Dayak lainnya sangat setia pada sumpah yang telah diucapkannya dan
apapun yang akan terjadi mereka tidak akan menghianati sumpah tersebut.
Siasat licik Belanda akan dibalas dengan siasat licik pula, dimikian
tekad Tumenggung Surapati dengan anak buahnya. Belanda mempunyai
keyakinan bahwa siasatnya berhasil apalagi Tumenggung Surapati telah
bersahabat dengan Belanda sebelumnya. Tumenggung Surapati pernah menjamu
dengan segala kebesaran dan penuh keramahan terhadap rombongan Civiel
Gezaghebber dan Komandan Serdadu Marabahan Letnan I. Bangert dan
stuurman kapal Cipanas JJ. Meyer pada tahun 1857
dua tahun sebelum terjadinya Perang Banjar. Persahabatan dengan Belanda
ini menimbulkan kebencian yang mendalam di hati Tumenggung Surapati
setelah serdadu Belanda membakar rumah dan kebun rakyat yang tidak
berdosa setelah terjadi Perang Banjar. Kebaikan hati Belanda hanya tipu
muslihat untuk memikat rakyat agar berpihak pada penjajah. Perang Barito
terjadi di sepanjang Sungai Barito dan sekitarnya. Perang ini merupakan
bukti kebencian seluruh rakyat dalam wilayah Kerajaan Banjar terhadap
penjajah Belanda.
Penyerbuan gudang garam Belanda 24 Desember 1859
Perang ini adalah Perang Banjar yang terjadi di sepanjang sungai Barito, dan diawali dengan penyerbuan gudang garam Belanda di Pulau Petak, sebelah hulu dari Kuala Kapuas.
Gudang Pulau Petak terletak di tepi sungai sedikit lebih tinggi dari
kampung di sekitarnya. Gudang garam ini dijaga oleh Letnan Bichon dengan
60 orang serdadu Belanda. Kapal perang Monterado ikut berjaga-jaga di sungai. Pada malam tanggal 23 ke 24 Agustus 1859 Pulau Petak diserbu oleh Tumenggung Surapati
dan Pembakal Sulil. Letnan Bichon tewas kena tobak dalam penyerangan
ini. Belanda berusaha membujuk Tumenggung Surapati agar membantu Belanda
menangkap Pangeran Antasari. Setelah usaha pertama gagal, pada bulan Desember 1859 kembali kapal Onrust menuju Muara Teweh. Kapal Onrust berhenti di Lalutong Tuwur sekitar 3 km sebelum sampai Muara Teweh, dan dari sini Belanda mengirim utusan agar Tumenggung Surapati berkenan datang di kapal Onrust.
26 Desember 1859
Pada tanggal 26 Desember 1859
dengan sebuah perahu besar dan diiringi dengan beberapa perahu kecil,
perahu-perahu tersebut tidak beratap. Tumenggung Surapati dengan 15
orang pengiring yang terdiri dari keluarga dan panakawan. Perahu-perahu
lainnya berlabuh di sebelah hulu dari kapal Onrust. Tumenggung
Surapati disambut oleh Letnan Bangert yang sudah lama kenal karena
pernah menjadi tamu Tumenggung Surapati pada tahun 1857.
Tumenggung Surapati masuk ke dalam kamar untuk berunding disertai 4
orang anak dan menantunya. Sepuluh panakawan lainnya beramah tamah
bersama para opsir di atas dek kapal. Dalam perundingan itu Belanda
menjanjikan hadiah-hadiah antara lain memperlihatkan surat pengangkatan
sebagai Pangeran.
Keramah-tamahan yang diperlihatkan dan sikap yang meyakinkan
menyebabkan Letnan Bangert merasa puas akan keberhasilan misinya. Dalam
perundingan itu Letnan Bangert didampingi oleh Haji Muhammad Thalib
sebagai juru runding dan perantara yang menghubungkan pihak Belanda
dengan Tumenggung Surapati. Haji Muhammad Thalib sebelumnya sudah curiga
dengan perahu-perahu yang ditumpangi Tumenggung Surapati dengan
pengikutnya. Perahu-perahu tersebut tidak memakai atap, sedangkan
kebiasaannya perahu mempunyai atap. Tetapi pihak Belanda tidak mengerti
dengan kebiasaan orang-orang Dayak
dengan perahu tanpa atap tersebut, karena Tumenggung Surapati dengan
pengikutnya memperlihatkan keramah tamahannya. Perahu tanpa atap suatu
pertanda sikap permusuhan dan sangat menggembirakan bagi seluruh rakyat
yang berjuang melawan Belanda.
Pertempuran di Leogong 11 Februari 1860
Akibat kekalahan yang sangat memalukan ini pihak Belanda mengirim serdadu sebagai ekspedisi dengan perintah bunuh semua Orang Dayak dan Melayu (Banjar) yang membantu menenggelamkan kapal perang Onrust. Untuk keperluan ini, Gustave Verspijck memberangkatkan kapal perang Suriname, Boni dan beberapa kapal pembantu pada tanggal 27 Januari 1860. Kapal ini membawa 300 serdadu bersenjata lengkap, diantaranya 10 serdadu Eropa, beberapa pucuk meriam dan mortir.
Pimpinan ekspedisi Letnan Laut De Haes melaksanakan perintah dengan
membabi buta, membakar semua kampung yang dilewati dan membunuh rakyat
yang ditemukan. Ketika sampai di Lalutong Tuwur ternyata kampung itu
telah dikosongkan penduduk. Kapal terus berlayar ke arah hulu sambil
menembaki tempat-tempat yang dicurigai. Kapal Suriname dan Boni
melewati kampung Leogong yang letaknya agak rendah. Dengan tidak diduga
Belanda, meriam yang beratnya 30 pond menembak ke arah lambung kapal Suriname.
Korbanpun berjatuhan. Kapal itupun miring karena tembakan itu mengenai
kedua ketel (boiler) sehingga mesin kapalpun mati. Baru menjelang tengah
malam barulah kapal itu dihanyutkan dan ekspedisi itu pulang tanpa
membawa hasil apa-apa. Pertempuran di Leogong ini terjadi pada 11 Februari 1860.

22 Februari 1860
Pada 22 Februari 1860, kembali kapal perang Celebes dan Monterado
dikirim menyerang benteng Leogong. Benteng ini dikepung dengan dua buah
kapal perang di hulu dan disebelah hilir serta 200 serdadu didaratkan.
Pertempuran sengit pun terjadi sepanjang sungai Barito. Menyadari
terhadap pengepungan ini Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati
melakukan siasat mundur untuk menghindarkan banyaknya jatuh korban.
Perang ini berakhir tanpa hasil yang memuaskan bagi Belanda. Untuk
mengantisipasi kapal-kapal perang Belanda, Tumenggung Surapati dan
Pangeran Antasari mengerahkan beratus-ratus perahu dengan sebuah perahu
komando yang besar. Pada perahu besar ini dipancangkan bendera kuning.
Armada perahu ini disertai pula dengan beberapa buah lanting kotta-mara
(katamaran) semacam panser terapung. Bentuk kotta-mara ini sangat unik
karena dibuat dari susunan bambu yang membentuk sebuah benteng terapung.
Kotta-mara dilengkapi dengan beberapa pucuk meriam dan lila. Selain
kapal perang Onrust yang berhasil ditenggelamkan pada 26 Desember 1859, sebelumnya yaitu pada bulan Juli 1859 juga ditenggelamkan kapal perang Cipanas dalam pertempuran di sepanjang Barito di sekitar pulau Kanamit.
Bantuan Suku Dayak terhadap Perang Banjar
Perang Banjar yang terjadi di Barito, memberikan posisi penting
terhadap keberpihakan Dayak. Seperti juga masyarakat Banjar maka
masyarakat Dayak juga terbelah, sebagian memihak Belanda karena mereka
diangkat oleh Belanda sebagai bagian dari pemerintahan Sultan Tamjidullah II yang didukung Belanda. Kiai Raden Adipati Danu Raja sebagai gubernur Banua Lima
berada di pihak Sultan Tamjidullah II dan Belanda, demikian
kepala-kepala pemerintahan di negeri Tanah Bumbu dan sultan Kutai yang
berada di bawah tekanan Belanda. Sutaono yang berasal dari desa Telang (Paju Epat) seorang kepala suku dayak Maanyan dan Temanggung Nikodemus Jaya Negara seorang kepala suku Dayak Ngaju.
Pangeran Antasari dan pengikutnya serta keturunannya menghadapi tekanan
yang berat dari saudara sebangsa baik dari suku Banjar, Dayak, Bugis,
Kutai yang sudah berada dalam gengaman kolonialisme Belanda. Sultan
Kutai membantu Belanda menangkap Pangeran Perbatasari (Sultan Muda) yang
akhirnya diasingkan ke Kampung Jawa Tondano. Keturunan Tumenggung
Surapati yang tertangkap diasingkan ke Bengkulu.
Untuk menghadapi perang ini sebanyak 142 militer Belanda diterjunkan
ditambah pasukan Dayak yang disiapkan Belanda berjumlah 426 terdiri :
- Orang Maanyan Sihong dibawah pimpinan Suta Ono berjumlah : 224
- Orang Maanyan Patai dibawah pimpinan Tumenggung Jaya Karti (Jelan) : 176
- Orang Dayak Katingan sebanyak : 26
Sumber : wikipedia.

Posting Komentar